Perihal hijab…
July 27, 2007 by dzln2911
memang ironi kan? Bila berada di oversea, terasa tidak asing bile berhijab.. mata, bile terpandangkan seseorang yg dari jauh berhijab, terasa x sabar2 ingin bertentang mata sambil memberikan salam pada mereka.. ukhuwwah itu terasa, w’pun xpenah pun kenal siapa sister tu…
bile balik cuti dimesia, terasa asing pulak… dlm ramai2, kita sahaja yg bertudung ;( .. kadang2 bile pakai tudung 60", kena lah di’paku’ dikiri kanan bahu, kasi x labuh sgt..(yelah asyik kene perli je tudung nye labuh sgt…) ..pelik pelik…
ade skali tu, berkenalan dengan seorg kawan kepada kawan yg baru je kahwin… ditanya ‘Dulu sekolah agama ke?’ <agaknye budak sekolah agama je yg beli tudung 60" kot>..
berkenalan juga dgn seorang makcik ni, (17years ago blaja kat texas) sharing her experience mase blaja kat sane, kene baling ngan telor busuk sbb die pakai tudung… tp skang ni, dah x pakai dah sebab after dh beranak ni ‘terasa malas nak pakai balik’…<aik, bole ek macam tu?>
emm… ironi ironi… mohon Allah bukakan hati mereka ni, dan mohon jgnlah dibolak balikkan hati ini, setelah Dia memberi petunjukNya, sesungguhnya Dia Maha Pemberi Kurnia..
ameen…
Aku dan Identitas Jilbabku
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Setiap
pagi sebelum meninggalkan rumah untuk bekerja, aku mengikat rambut dan
menutup seluruh bagian rambut hingga leher dengan sehelai kain.
Selembar kain itu sudah menjadi bagian dari perlengkapan pakaianku.
Shaista ‘Aziz, wartawati muslimah berkebangsaan Inggris, sejak beberapa
tahun lalu memutuskan untuk mulai mengenakan hijab. Seperti beribu-ribu
muslimah yang ada di seluruh dunia, hijab telah merupakan bagian dari
dirinya, yang dipakainya dengan perasaan bangga dan percaya diri.
Dia memutuskan memakai jilbab setelah mengalami perjalanan batin
yang panjang untuk mempelajari lebih dalam tentang Islam sebagai
agamanya. Perjalanan batin ini dimulai setahun sebelum terjadi serangan
terhadap gedung World Trade Center di New York. Keinginannya
mempelajari Islam semakin kuat setelah kejadian 11 September di New
York yang menggegerkan dunia itu.
Ketika itu penduduk muslim yang ada di seluruh dunia, termasuk
Inggris berada di bawah ancaman dan tekanan para politisi dan media
Barat di Inggris. Saat itulah muncul keinginannya untuk tampil sebagai
seorang muslimah yang eksis.
Shaista ‘Aziz adalah muslimah terdidik dari dunia barat, walaupun
tidak banyak tahu tentang bagaimana keadaan muslimah di negara lain
seperti Irak, Bosnia, Somalia dan Palestina. Namun dia tetap yakin dan
mantap menyatakan identitasnya melalui Islam dan jilbab.
Sejak kejadian 11 September di New York itu, telah terjadi lonjakan
fantastis ‘jilbaber’ di kalangan Muslimah, khususnya wanita muda
Inggris. Dari komentar mereka diketahui bahwa hampir semua melakukannya
sebagai sebuah pilihan.
Sekarang ini, bila berjalan-jalan hampir semua jalan raya di
Inggris, setiap Sabtu pagi, maka kita akan bertemu dengan para muslimah
muda yang mengenakan jilbab. Umumnya dalam warna sangat serasi dengan
pakaian mereka. Kemudian dalam perjalanan menuju tempat kerja setiap
pagi, maka kita akan lebih sering bertemu saudara-saudara muslimah yang
aktif, mengenakan jilbab dengan gaya yang berbeda-beda, dibandingkan
para wanita lain yang mengenakan pakaian beraneka ragam.
“Dengan mengenakan hijab aku merasakan suatu kekuatan besar mengalir
dalam diriku. Sekarang setiap hari adalah hari yang indah bagi
rambutku, sepanjang yang aku ingat dan rasakan. Ketika aku berjumpa
dengan muslimah lain di jalan, kami selalu tersenyum, kadang-kadang
saling menganggukkan kepala dan saling menyapa, assalamulaiakum, wa
‘alaikum salam.” Ujar Shaista bangga.
“Ironisnya, aku menghadapi reaksi yang paling keras tentang hijabku
ini, ketika berada di luar Inggris. Baru-baru ini saat pergi ke Kairo,
Mesir, dan bertemu dengan teman yang bekerja di sebuah coffee shop. Aku
menelponnya dari mobil dan kami berjanji untuk bertemu di lobi hotel,
tempatku menginap. Ketika aku datang dan menyapanya, temanku itu
ternganga heran. Mungkin saking kagetnya melihatku berjilbab.”
“Aku menyadari bahwa ada masalah yang sangat besar dalam Dunia Islam
berkaitan dengan hijab. Kemudian ketika kami sudah nyaman di dalam
kafe, dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya mengapa aku berhijab?
Aku pikir itu pertanyaan yang sangat lucu.”
Seorang muslimah Mesir yang tinggal di dunia Arab malah bertanya
kepada seorang wanita Muslimah kelahiran Barat yang tinggal di Inggris.
Mengapa ia mengenakan jilbab. Sebuah ironi bukan? Namun saat dijelaskan
alasannya, dia terlihat santai saja sambil mengeluarkan rokok dari
dalam tasnya, kemudian mulai bercerita pada Shaista ‘Aziz tentang
jilbab. Seolah dia yang paling tahu banyak hal tentang jilbab. Jilbab
dianggap sebagai sesuatu yang tidak praktis, menyusahkan bahkan sesuatu
yang mencekik bagi presenter di TV. Ia tidak ingin memakai hijab. Tidak
mungkin. Mungkin itu yang ada dalam benak mereka.
“Aku malah berpikir bahwa di dunia barat ada keasyikan tersendiri
memakai jilbab, cadar dan burqo. Aku menyadari dan tidak menyangkal
bahwa ada masalah yang sangat besar dalam Dunia Islam terkait dengan
kesejajaran hukum bagi para wanita. Tetapi memang para muslimah
menghadapi masalah yang berkaitan dengan jender di seluruh dunia.”
Shaizta ‘Aziz meyakinkan dirinya.
Perlu disadari bahwa para muslimah berhijab berbeda-beda antara
negara yang satu dengan negara yang lain. Gaya dan model mengenakan
jilbab pun mungkin juga berbeda-beda. Ini menunjukkan Islam berada di
atas segala kumpulan negara-negara, kebudayaan, bahasa dan kepercayaan.
Shaizta ‘Aziz patut bersyukur dapat mengekspresikan kesalihannya
dalam berbusana muslimah, karena hal ini tidak dia temukan di tempat
lain. Walau pada kebanyakan negara yang berpenduduk muslim sekalipun
masih banyak ditemukan wanita tanpa busana muslimah.
Kondisi warga muslim di negara-negara Barat adalah sebuah fenomena
yang menarik perhatian dunia Islam dan berbagai forum di Barat.
Pasalnya, dalam beberapa dekade terakhir, umat Islam telah menjelma
menjadi minoritas agama terbesar di Eropa dan Amerika. Hal inilah yang
lantas mendorong mereka untuk menuntut hak-hak yang mestinya mereka
peroleh sebagai bagian dari masyarakat di Barat. Akan tetapi, tuntutan
itu bukan hanya tidak direspon oleh rezim-rezim di Barat, bahkan media
massa di Eropa dan Amerika getol melontarkan tuduhan miring untuk
merusak citra umat Islam di dunia.
Di Inggris, umat Islam adalah warga minoritas terbesar dengan jumlah
sekitar dua juta jiwa atau tiga persen dari populasi Inggris. Warga
muslim Inggris umumnya adalah imigran dari anak benua India, meski tak
dipungkiri bahwa banyak pula warga asli Inggris yang memeluk agama
Islam.
Di Inggris, warga muslim menghadapi perlakuan pemerintah Inggris
yang relatif lunak terhadap warga muslim dibanding negara-negara
lainnya di Eropa. Di negara ini terdapat sekitar 600 masjid di berbagai
penjuru negeri ini yang merupakan pusat kegiatan warga muslim Inggris.
Dari masjid inilah, muncul berbagai organisasi dan partai Islam yang
melakukan aktivitas penyebaran agama Islam dan melakukan koordinasi
terhadap warga muslim sebagai sebuah komunitas keagamaan.
Berdasarkan undang-undang Inggris, setiap warga bebas melaksanakan
kewajiban agamanya. Undang-undang ini tentu saja sangat menguntungkan
kelompok minoritas agama di Inggris tak terkecuali umat Islam. Tahun
1988, dengan disahkannya undang-undang persamaan hak belajar, warga
muslim Inggris mendapatkan peluang yang lebih besar untuk belajar,
termasuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman.
Saat ini, sekitar 110 sekolah agama Islam menjalankan aktivitasnya
secara independen di Inggris, dan tentunya jumlah sekecil ini masih
jauh dari cukup bagi komunitas muslim Inggris, apalagi jika kita
membandingkannya dengan fasilitas yang didapatkan oleh kelompok
minoritas lain. Meski demikian, para pelajar muslim di Inggris tetap
terlibat aktifitas pendidikan dengan giat. Bahkan tahun lalu, salah
sebuah sekolah menengah atas putri muslim ditetapkan sebagai sekolah
menengah tingkat atas terbaik di Inggris.
Di tengah sinar dakwah yang begitu benderang di negeri Pangeran
Charles ini, bukan berarti tidak ada tantangan. Namun dalam menghadapi
tekanan dan propaganda buruk ini, Islam di Inggris telah memposisikan
diri sebagai agama yang hidup dan menarik perhatian. Karenanya,
sebagian warga Inggris memiliki pandangan yang baru terhadap ajaran
agama ini. Kita berharap, masyarakat muslim Inggris sebagai kelompok
minoritas terbesar di Inggris dapat memperoleh hak-hak mereka yang
semestinya.
“Melalui Islam aku merasa memiliki kekuatan untuk tetap dapat
bergerak dinamis karena keindahan dan kesederhanaan pamakaian jilbab
dan petunjuk-Nya dalam kehidupanku.” Shaista ‘Aziz membenarkan.

