Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
October 15, 2007 by dzln2911
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat
telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah
secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun
Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi¡¯in (generasi sesudah wafatnya
Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur
———— ——— ——— ——— ——— ——–
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona¡¯ah),
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah
nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai
bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga
apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan
keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda
Rasulullah SAW yaitu : ¡°Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang
yang lebih sulit dari kita¡±. Bila sedang diberi kemudahan, ia
bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun
akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia
tetap ¡°bandel¡± dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya
lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah
orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh
———— ——— ——— ——— ——— ——— -
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan
keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai
imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri
dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri
bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk
mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula
seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan
yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya
kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang
memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh
———— ——— ——— ——— ——–
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan
seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf
Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : ¡°Kenapa pundakmu
itu ?¡± Jawab anak muda itu : ¡°Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya
mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia
dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya
ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu
sisanya saya selalu menggendongnya¡± . Lalu anak muda itu
bertanya: ¡± Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang
yang sudah berbakti kepada orang tua ?¡± Nabi SAW sambil memeluk
anak muda itu dan mengatakan: ¡°Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu
anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta
orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu¡±. Dari hadist tersebut
kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup
untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita
bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang
sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah
kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman
kita.
———— ——— ——— ——— ——— ——— -
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib
kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap
keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang
yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan
kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang
yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu
terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan
ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah
orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal
———— ——— ——— ——— ——
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi
halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW
pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan.
¡°Kamu berdoa sudah bagus¡±, kata Nabi SAW, ¡°Namun sayang makanan,
minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram,
bagaimana doanya dikabulkan¡±. Berbahagialah menjadi orang yang
hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta
yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya
semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam
hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti
menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama
———— ——— ——— ——— ——— ——— -
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu
agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk
belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-
Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu,
semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi
cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi
cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ¡±hidup¡± kan
hatinya, hati yang ¡°hidup¡± adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya
nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh
semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah
———— ——— ——— –
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh,
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang
mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya
akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa
mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power
syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya
menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap
kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila
ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan
orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk
akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia
untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan
bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk
meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan
keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah.
Inilah semangat ¡°hidup¡± orang-orang yang baroqah umurnya, maka
berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator
kebahagiaan dunia.